Sabtu, 12 Desember 2009

MUSIM PANAS YANG DINGIN

18 komentar

Satu hal yang bikin saya merasa norak bin katrok ketika ke Aussie pada bulan Oktober tahun 2006 adalah cuacanya. Saat itu sudah memasuki summer (waktu musim panas di Aussie berbeda dengan negara-negara 4 musim lainnya). Bayangkan, matahari bersinar begitu terik, tapi dinginnya itu lho..mana tahaaann....Mungkin karena anginnya yang sangat amat kencang.

Saya sampai harus pakai topi supaya rambut pendek saya gak awut-awutan dan untuk mencegah silau karena matahari yang bersinar terang. Bahkan, karena gak tahan dengan dinginnya, saya dan adik saya pakai jaket.

Lucunya, waktu kami ke Bondi Beach, yang pake jaket tuh kayaknya cuma saya, adik dan mama deh. Peserta tour yang lain gak mau pake jaket. Walau beberapa di antara mereka kedinginan juga, karena merasa malu. Lha, cuaca cerah gitu kok pake jaket. Mana para turis bulenya pada pake yang serba terbuka. Ada yang pake tank top, bikini, telanjang dada dan cuma pake celana boxer (khusus yang cowok).

Tapi, saya, mama dan adik cuek aja deh. Daripada masuk angin dan menggigil kedinginan. Biarin aja deh dikatain katrok. Emang katrok sih. Katrok sama cuacanya yang aneh gitu lho.


LIAT DEH, FOTO SAYA MEJENG DI TEPI PANTAI. CUACANYA CERAH KAN? TAPI SAMA SEKALI GAK PANAS. BRRR.....DINGIN.....!!!



SAYA DAN ADIK BERGAYA DI AREA SYDNEY OPERA HOUSE. Tapi, gambar Opera House-nya gak keliatan nih. See, kami berdua pake jaket dan topi karena anginnya sangaaat kencang.



Senin, 16 November 2009

MANEKIN ATAU ORANG

9 komentar

Coba perhatikan dengan seksama dan dalam tempo yang sangat lama foto di bawah ini.



Oke? Sudah menatap dengan teliti? Nah, sekarang tebak....apakah cewek cantik bin unik di gambar tersebut, sebuah manekin atau seorang manusia?

Yang menjawab : seorang manusia, bakal dapat tiket gratis ke Italia. Ha ha ha....
Yang menjawab : sebuah manekin, bakal dapat kue putu mayang karena ANDA SALAAAH.

Wow! Mungkin kamu enggak percaya kalo saya katakan itu bukan manekin tapi manusia, tepatnya seorang wanita yang berdandan sedemikian rupa dan menyetel ekspresi wajahnya sekaku itu sehingga kalo dilihat sekilas mirip banget dengan manekin.

Manekin eh, wanita ini saya temui ketika melancong ke Italia. Di salah satu tempat wisata (lupa nama tempatnya) di Italia sono, memang banyak orang yang mencari nafkah dengan cara : BERPURA-PURA SEPERTI MANEKIN. Mereka memoles wajah dan mengenakan pakaian yang unik sehingga orang-orang tertarik melihat mereka. Lalu, mereka mejeng di tempat-tempat yang ramai, biasanya sih tempat wisata.

Biasanya, para turis yang tertarik pada gaya mereka akan mengambil foto mereka atau foto bareng dengan manekin palsu ini. Nah, setelah foto bareng atau difoto, para turis akan menaruh sejumlah uang (terserah mau kasih berapa) ke dalam sebuah kaleng atau kotak yang terletak tak jauh dari tempat mereka berdiri.

Ketika saya berfoto dengan manekin palsu ini, saya juga memberikan sejumlah uang ke kotaknya. Anehnya, setelah diberikan uang, manekin palsu ini akan membungkukkan tubuhnya sebagai tanda terima kasih. Salute...salute...itu namanya mengerti sopan santun.

Bahkan ketika saya ke Wina, Austria, saya pernah melihat seorang cowok yang mengecat tubuhnya dengan warna perak metalik yang kinclong banget. Lalu wajahnya dicat putih banget. Cowok ini kemudian memainkan sebuah biola untuk menarik perhatian orang yang lewat. Tentu saja ia berharap orang akan berhenti untuk menaruh uang di kotaknya.

Tak jarang, ia memberikan sebuah post card bergambar panorama negara Austria kepada setiap orang yang mengajaknya berfoto dan memberikan sejumlah uang ke kotaknya.

Ada pula yang berdandan seperti patung Liberty. Memakai jubah putih dan mahkota lalu berdiri diam dengan gaya patung Liberty. Hebatnya lagi, dia berdiri di bawah sinar matahari jam 2 siang yang luar biasa panasnya. Kebetulan, saya pergi ke Eropa saat musim panas. Dan..panasnya itu gak beda jauh sama udara di Jakarta.

Hufff!! Sungguh luar biasa cara mereka mencari nafkah. Mereka bukan pengemis dan enggak memaksa orang untuk memberikan uang. Sukarela aja. Gak dikasih pun gak apa-apa. Tapi, mana ada yang tega sih? Apalagi sudah mengambil foto mereka.

Kreativitas mereka patut diacungi sepuluh jempol. Ada yang menyebut mereka sebagai seniman jalanan atau artis jalanan. Bagaimana dengan di Indonesia? Kita sering lihat orang-orang berdemo dengan cara mencoreng wajah atau berpakaian aneh-aneh. Nah, kenapa enggak menjadikan atraksi itu sebagai salah satu cara mencari uang dengan halal? Daripada minta uang dengan cara mengelap kaca jendela mobil and kalo enggak dikasih, ngancem mau pecahin kaca jendela. Tapi, kalo di Indonesia, kira-kira ada yang mau ngasih duit gak ya melihat atraksi seniman jalanan?

Jumat, 06 November 2009

3G di Venezia

9 komentar

Sejak masih kuliah saya punya mimpi bisa ke Eropa terutama ke Venezia. Alasannya sederhana. Saya ingin sekali merasakan naik gondola yang asli dari negara asalnya. Bukan sekadar gondola-gondola-an dengan kanal-kanal buatan seperti yang pernah saya lihat di Genting, Malaysia. Dan, keinginan itu tercapai pada bulan Juni 2007.

Meskipun tarifnya lumayan mahal. Sekitar 80 euro per orang tapi saya benar-benar enjoy naik gondola. Saat gondola melaju, saya bagai dibuai dalam ayunan, diiringi dengan suara kecipuk air. Hmm, jadi ingin tidur deh.

Sayangnya, waktu itu sedang summer dan cuacanya lumayan panas. Timing-nya juga tidak pas. Pukul 14 ‘kan lagi panas-panasnya. Seharusnya kalau mau bergondola ria, ambil waktu sore hari saat matahari sudah mulai ngantuk. Pasti indah dan romantis (kalau saja pacar saya ikut serta... ehem…..) menikmati suasana senja sambil bergondola.

Selain asyik menikmati ayunan gondola, mata saya juga dimanjakan oleh cowok-cowok pengayuh gondola (bahasa kerennya Gondolier). Gila, cing! Mereka benar-benar kereeeenn! Meskipun kostumnya seperti kulit Zebra (T-shirt motif garis hitam putih dipadu celana panjang hitam) tapi bodynya yahuuud! Tinggi tegap dengan lengan kekar berotot. Wajahnya …hmm….tak kalah dengan Brad Pitt. Membuat mata tak jemu memandang.

Walaupun di Indonesia profesi mereka sama dengan Tukang Sampan tapi saya yakin, kalau mereka ke Indonesia, pasti bakal ganti profesi menjadi pemain sinetron.

Namun, dibalik wajah ganteng dan tubuh gagah mereka, tersimpan karakter yang eleuh ..eleuh….galak pisan euy! Adik saya sempat dibentak-bentak karena posisi duduknya yang tidak benar menyebabkan gondola bergoyang.

Semula saya mengira, dia membentak saya. Karena waktu itu saya tidak bisa duduk manis. Leher muter-muter (mirip kepala boneka nyaris copot), tangan menunjuk ke sana kemari, mulut ngoceh tiada henti dan minta difoto dan di shoot berkali-kali. Maklum, pertama kali bergondola ria jadi norak banget.

Tapi karena sang gondolier memakai kacamata hitam, saya dan adik tidak tahu siapa yang dia tegur. Padahal bahasa Inggrisnya lumayan bagus. Mungkin karena telinga Indonesia kami saja yang tidak tokcer

Setelah berulang kali sang gondolier ngoceh, baru saya mengerti. Ooo…dia minta adik saya memperbaiki posisi duduknya supaya gondola tidak miring sebelah dan kehilangan keseimbangan. Kalau itu terjadi, kami semua bisa kecebur. Ya ampun, ngasih tahu begitu saja kok pakai bentak-bentak sih. Saya langsung nyeletuk (pakai bahasa Indonesia, biar dia tidak mengerti) : “Idih, cakep-cakep galak!”

“Gaya ngomong mereka memang begitu. Kasar. Seperti orang Batak.” Celetuk seorang ibu, peserta tour yang satu gondola dengan saya. (Maaf, buat yang merasa dirinya orang Batak, tidak ada maksud menyinggung lho! ) Rupanya, ibu ini sudah pernah ke Venezia jadi tahu banget ‘gaya’ nya orang sana.

Hmm, saya jadi punya julukan buat sang gondolier. How about 3G (baca : Triji) ? GONDOLIER GANTENG tapi GALAK! He.. he.. he…..!

NIH, SI GONDOLIER KEREN YANG GALAK. EIT, ITU TANGAN SAYA LHO. LAGI MEMUJI KEGANTENGAN SI 3G. HEHEHE...


Selasa, 27 Oktober 2009

MEJENG DENGAN MENARA PISA

6 komentar

Huff! Akhirnya kesampaian juga nih mosting artikel tentang perjalanan ke Menara Pisa, Roma. Selama ini saya harus mencari waktu untuk menjepret ulang fotonya secara filenya dah hilang. Yang ada hanya lembar-lembar fotonya. Jadi, difoto ulang deh.

Saya ke Menara Pisa pada bulan Juli 2007. Waktu itu udara sedang sangat amat panas. Panasnya melebihi Jakarta deh. Enggak heran, turis yang ke sana banyak yang bertank top ria. Saking panasnya, saya sampai enggak jadi masuk ke dalam menara karena mesti jalan kaki lagi plus bayar lagi. Padahal, duit di kantong udah cekak nih. Maklum, Menara Pisa adalah salah satu tempat wisata terakhir yang dikunjungi (dari total 16 negara-negara di Eropa yang kudu dikunjungi sesuai jadwal).

Lagian, saya, mama dan adik lebih tertarik melihat-lihat souvenir yang banyak dijual di sana. Cantik-cantik dan mahal-mahal. Paling murah juga 2 Euro. Itupun souvenir yang biasa-biasa aja.

Btw, waktu antri masuk ke sana, mama saya nyaris dicopet lho. Lagi-lagi pencopetnya masih muda. Masih ABG. Cewek. Cantik pula. Penampilannya gak beda jauh sama turis-turis lainnya. Cara nyopetnya juga unik. Punggung tangan kanan ditutupi sapu tangan. Lalu tangan kiri berada di bawah tangan kanan. Nah, tangan kiri inilah yang beraksi menjelajahi tas-tas para turis.

Biasanya, mereka mengincar turis yang menyandang tas di bahu. Nah, pada saat turis lengah, beraksilah mereka. Kebetulan, mama saya menyandang tas di bahu kiri. Dan kondisi saat itu sedang ramai sekali. Maklum, musim panas kan musim libur panjang.
Tapi, saya yang berada di belakang mama melihat aksi si pencopet ini. Walau sempat terhalang oleh tubuh seorang turis, tapi saya sempat melihat tangannya yang ditutupi sapu tangan itu sepertinya mendekati tas mama saya.

Namun karena belum yakin benar kalau dia pencopet, saya hanya bisa berteriak manggil mama. Mengingatkan mama akan tasnya. Saya belum sempat mendorong tuh pencopet atau menegur dia. Mendengar teriakan saya, pencopet itu mengurungkan niat jahatnya. Dia menoleh ke saya. Saya memandangnya tajam dan penuh curiga.

Benar saja! Ketika kami sudah tiba di dalam, saya minta mama mengecek tasnya. Sudah terbuka sedikit. Padahal mama yakin sejak tadi belum buka tasnya. Tapi, kalo toh dia berhasil nyopet, dia hanya akan mendapatkan tisu dan obat saja karena mama enggak pegang duit sama sekali. Semua uang saku perjalanan disimpan saya dan adik saya.

Paspor juga diletakkan di bagian lain dari tas itu yang kebetulan banyak tempat penyimpanannya. Jadi, dia harus susah payah merogoh tuh untuk mendapatkan dompet mama yang isinya duit rupiah yang gak seberapa. He he he.....

Buset deh, kalo dipikir-pikir, profesi copet di negara-negara Eropa ternyata gak kenal jender ya. Pelakunya bisa cowok bisa cewek. Cantik dan ganteng pula. Ck..ck..ck...

NIH, KALO MO FOTO DENGAN MENARA PISA HARUS BEGINI GAYANYA. SEAKAN-AKAN TANGAN KITA MENCEGAH MENARA ITU AMBRUK. ITU KATA PARA TURIS YANG SIBUK BERFOTO RIA DI SANA. SAYA SIH IKUTIN AJA GAYA MEREKA.



Sabtu, 24 Oktober 2009

PENCOPET CILIK DI MENARA EIFFEL

5 komentar

Hati-hati kalau berwisata ke Menara Eiffel, Paris. Di sana banyak sekali pencopet cilik. Benar-benar cilik karena usia mereka sekitar 8 - 10 tahun. Ada juga sih yang ABG.

Ketika saya melancong ke sana, pemandu wisata mengingatkan agar berjaga-jaga terhadap aksi pencopet cilik ini. Karena sudah banyak turis yang jadi korban. Wah, saya jadi merasa nggak nyaman banget deh. Tas melancong saya langsung aja disampirkan ke depan perut dan tangan diletakkan di atas tas.

Apalagi waktu lunch tiba, jumlah turis yang berkunjung semakin banyak. Saya dan beberapa peserta tour ikut mengantre di stand makanan yang terletak di salah satu lantai di Menara Eiffel. Uniknya, tidak ada kursi untuk duduk menikmati makanan. Hanya ada beberapa meja bulat berkaki tinggi di sekitar stand-stand makanan. So, setelah membeli makanan maka kita bisa menaruh wadah makanan itu di atas meja. Lalu makan sambil berdiri di dekat meja itu. Buat yang tubuhnya mungil kayak saya, rasanya tuh meja agak ketinggian deh. Kalo gak salah setinggi dada saya.

Nah, saat sedang menikmati makanan itulah, saya disapa oleh seorang anak laki-laki berusia sekitar 9 tahun. Tapi, karena sudah diperingati oleh pemandu wisata, saya cuek aja.

Tak lama ketika sedang melihat-lihat souvenir yang banyak di jual di sana, lagi-lagi saya disapa oleh anak-anak kecil. Karena saya cuek, tidak menjawab, mereka pun akhirnya tidak berani mendekati saya. Hanya mata mereka tetap mengawasi saya dan turis-turis lainnya.

Mungkin modus operandi mereka adalah menyapa dan mengajak ngobrol setelah itu kalau yang diajak ngobrol lengah, tangan mereka beraksi. Well, saya terpaksa bersikap tidak ramah dan paranoid terhadap anak-anak itu. Karena memang rada aneh melihat anak-anak kecil bergerombol, saling bisik-bisik sambil memandangi para turis. Apa sih maksudnya? Ngeliat-liat sambil bisik-bisik. Kesannya kok norak banget. Norak ato cari kesempatan nih?

Sayangnya, saya lupa menanyakan pemandu wisata bagaimana mereka beraksi. Tapi, bukankah lebih baik berhati-hati. Apalagi mengingat uang saku yang saya bawa terbatas. Wah, jangan sampai kecopetan deh. Bisa nangis bawang goreng dan bawang bombay nih.